Kamis, 09 Mei 2013

Kecil, Tapi..... Cantik!

Namaku Defa, aku mempunyai adik yang bernama Devi. Aku tinggal di Banjar Masin. Sudah empat tahun aku tinggal disini. Sebelumnya, aku tinggal dikampungku di Sampit, Kalimantan Tengah. Aku memang lahir disana. Tapi karena pekerjaan ayah, aku terpaksa pindah ke Banjar masin.
Sebenarnya, aku lebih suka tinggal di Sampit karena disana lebih banyak saudaraku, tidak seperti di Banjar Masin. Disini aku hanya ber-empat, Ayah, Ibu, Aku, dan adikku. Oya, aku juga punya kakak laki-laki, tapi ia sudah meninggal, jadi seakrang aku anak sulung

Menjelang idul fitri, aku sekeluarga akan pulang kampung. Biasanya, Aku naik bus atau travel. Tahun ini, ayah memutuskan naik pesawat karena rezekinya agak banyak. Oya, ini adalah pengalaman pertamaku naik pesawat. Kalau ayah, sudah sering naik pesawat, itupun jika sedang ada tugas kantor.
Ayah sudah memesan tiket seminggu yang lalu.


Kira-kira jam satu siang, aku siap-siap naik taksi yang dipesan ayah untuk menuju Bandara. Tas koper yang berisi baju dan oleh-oleh ditaruh dibagasi. Sedangkan makanan dan minuman, ditaruh di tas tenteng depan agar tidak susah jika ingin makan atau minum selama perjalanan ke bandara.
 Aku memilih duduk didepan, dekat sopir. Karena ini tempat kesukaanku, karena tidak ada yang mengganggu dan tidak sempit. Ayah, ibu, dan adikku duduk dibelakang. Atau jika tidak begitu, ayah yang duduk didepan, dan aku yang duduk dibelakang.
Perjalanan dari rumah menuju bandara memang jauh.
Sesampainya di bandara, aku langsung masuk tempat pemeriksaan tas. Alhamdulillah tidak ada apa-apa di tasku.
Tapi ketika pemeriksaan kedua, tiba-tiba.....
Tittt..... titt..... tit..., ada alat berbunyi saat tas tenteng ibu melewati petugas. Ada apa gerangan?
“Ibu, sini, Bu!” panggil petugaas bandara.
Semua kaget. Aku, ayah, dan adik membuntuti ibu dari belakang.
“Buka tasnya, Bu! Keluarkan isinya!” kata petugas.
Ibu mengeluarkan semua isi tas dihadapan petugas. Masya allah, mulai Tango sampai tissue basa, keluar berantakan. Ibu bingung mencari-cari, apa yang membuat alat itu berbunyi? Ibu takut disangka penjahat.
 Benda yang tidak boleh dibawa itu akhirnya ketemu! Apakah itu? Ternyata, itu adalah gunting kecil dan pemotong kuku. Ibu sengaja membawa gunting kecil untuk mainan gunting-guntingan adikku.  Adikku memang kreatif. Sedangkan pemotong kuku, utnuk memotong kuku yang panjang. Ibu membawanya karena aku tidak sempat memotong kuku dirumah.
Gunting kecil dan pemotong kuku itu ditaruh disebuah kotak kaca besar. Disitu ada barang-barang yang semuanya dari logam, milik penumpang yang lain. Rata-rata disana kebanyakan gunting kecil.
Diruang tunggu..........
Ruangan ini penuh dikelilingin kaca, sehingga aku bisa melihat keluar. Di Luar, aku melihat banyak pesawat yang diparkir. Pesawat itu bermacam-macam bentulnya dan ukurannya.  Ada yang moncongnya agak runcing dan ada juga yang gemuk. Aku melihat nama-nama pesawat itu. Ada yang namanya Lion Air, Trigana Air, Star Air, Pelita air, Garuda, Merpati, Mandala, Jatayu dan yang terakhir city link!
Didalam ruangan ini juga ada AC-nya dan TV yang menyala.
Aku, ibu, ayah, dan adikku menunggu dengan kesal karena pesawat yang kami pesan kelamaan datang. Aku melirik jam yang ada didepanku. Waktu sudah menunjukan pukul satu siang. Lalu, aku bertanya pada ibu, “Bu, kok, pesawatnya nggak datang-datang?”
“Itu, kan, pesawatnya udah datang,”kata ibu.
“terus, kenapa kita nggak berangkat?” tanyaku lagi.
“Ibu juga nggak tau. Mungkin lagi dibetulin,” kata ibu yang kelihatannya bingung juga.
“Ya, udah” kataku sambil meninggalkan ibu.
Aku juga bertanya kepada ayah, tapi ayah menjawab agak sabar.
“Yah, kok lama sekali sih, pesawatnya?”
“Ayah udah tanya ke petugas, tapi kata petugasnya masih nunggu pesawatnya sampai dari surabaya.”
“Ah.. lama banget, sih!” desah Defa kesal.
“Sabar aja, ya? Masih banyak, lho, orang yang nggak bisa naik pesawat. Jangankan naik pesawat, pulang kampung aja nggak bisa,” jawab ayah sambil mengelus kepala Defa.
“Nggak bisa apa, yah?”
“Maksutnya, nggak punya uang buat beli makanan.”
“Apa hubungannya sama naik pesawat?”
“Hubungannya, kalau orang nggak punya uang buat beli makanan, apalagi mau pulang kampung. Yang pertama orang pikirkan, makan!” penjelasan ayah.
“O, iya, ya...,” kata Defa teringat teman kecilnya yang miskin. Atau, kalau ia naik bis kota 605 ke arah Kampung Rambutan, ia banyak melihat anak jalanan yang meminta-minta uang atau ngamen pakai kecrekan. Lebaran tahun ini pasti anak-anak itu tak bisa pulang kampung.....
Ibu menyambung perkataan Ayah, “Difa ingat nggak, tahun-tahun lalu kita pulang naik bis, sekarang naik pesawat, ya.... alhamdulillah.
Naik bis aja dulu berapa jam? Sehari semalam. Kalau naik pesaat hanya satu jam.”

Sejam kemudian............
Pesawat yang kami tunggu pun datang.
“Penumpang pesawa city link dengan nomer penerbangan GA 307 ke sampit, dipersilahkan naik ke pesawat,” suara panggilan petugas melalui megaphone.
“Ayo Difa, ayo Devi!” ajak ibu dan ayah.
Setelah keluar dari ruang tunggu, kami naik bis khusus bandara menuju tempat parkir pesawat yang agak jauh tempatnya.
Sesampainya ditempat parkir, ayah mengajakku menaiki sebuah pesawat kecil.
“Ayah, apa nama pesawat ini?” tanyaku.
“Namanya City Link.”
“Kok, kita naik yang kecil,sih? Kenapa nggak yang besar itu aja?” tanyaku lagi sambil menunjuk pesawat yang bertuliskan Garuda.
“Kita udaah pesen tiket City Link.”
“Pindah yang itu, dong, yah!” rengek Defa.
“Masya allah, sayang. Ayah pilih yang ini karena ini lebih murah, yang penting kan kita sampai ke Banjar Masin.”
“ya udah.”
Alhamdulilah, Defa ini mudah mengerti.
Sesampainya di kota Sampit, Defa menulis pengalamannya naik pesawat yang dialaminya. Dia menulis begini, Alhamdulillah aku bisa naik pesawat. Walaupun kecil, tapi cantik karena pesawatnya dicat dengan rangkaian bunga-bungaan..... dan seterusnya. Pesawat yang dinaiki  Defa memang lain dari yang lain.









                                                                                                                                

0 Comments:

Post a Comment



By :
Free Blog Templates